7 Tips menghadapi Toxic Relation

, , 4 comments


Assalamualaikum warrahmatullahi wabarokatuh.

Posting kali ini aku nggak akan ngomongin soal pemrograman old school alias vb6 atau alur rumah sakit. Tapi aku pengen sharing soal kehidupan pribadi yang mungkin berguna bagi kalian para pembaca yang budiman. BTW, cerita ini adalah sambungan dari curhatan istriku di https://www.maritaningtyas.com/2019/09/i-was-abusive-toxic-partner-but-i-am-move-on.html 
Karena dipostingan sidia bau-bau toxic, jadi di sini aku juga bahas toxic. Disini aku bahas sebagai laki-laki aka suami,  mungkin ada yg mau share pengalaman mengatasi toxic relation dari sisi istri (wanita) bisa share di kolom komentar.

Toxic Relation 

 

Toxic Relation adalah kondisi dimana kehidupan cintamu tidak seindah sinetron FTV di SCTV, tapi lebih mirip dengan sintron-sinetron di Indosiar.

Kalau kamu merasa dia (pasangan) over protektif, suka lebay dalam menyikapi sesuatu, suka nyalahin, nggak mau ngalah, maunya menang sendiri. Coba deh mulai digali. Soalnya aku juga merasa seperti itu sejak awal pacaran. Nih anak kok cemburuan banget ya, kalau pas marah tambah cantik sih. Tapi kalau mbanting kursi, cantiknya kan ilang 😁.

Salah satu ciri yang paling menonjol di Toxic Relationship adalah, gampang banget ngajak putus. Tapi kalau beneran diputusin, dianya nyesel sendiri. Terus ngaku-ngaku kalau berbuat begini karena saking sayangnya, karena (kalau ngalamin ini,  silahkan titik titiknya diisi sendiri) .... ... ...


Bener banget tuh, Lalu Apa Yang Harus Aku Lakuin?

Buat komitmen, berdoa dan berusaha sob. Sudah itu saja hahaha. BTW kalau to do-nya tak tulis disini, artikelnya kependekan donk. Cuss baca sampai selesai ya!

Indikasi Terjadinya Toxic Relation


Dalam sebuah hubungan, pasti ada komunikasi. Kalau mulai terjadi pola komunikasi yang tidak sehat. Misalnya dia suka menang sendiri, nggak mau dikritik, mudah cemburu, terlalu dominan, egois, suka menuntut dll. Siap-siap sob, mungkin dia Toxic patner. eh atau mungkin malah kamunya yang seperti itu. Sadari sebelum terlambat sob. bertobat dan minta maaflah pada yang kuasa.


Penyebab

Siapa sih yang mau menjalani Toxic Relation? Pastinya nggak ada ya. Semua orang pasti ingin bahagia, Bahkan seorang Toxic Patner pun sebenarnya ingin bahagia. Aku kadang bingung juga, mereka ingin bahagia, tapi suka melukai pasangan. Apakah dengan menyakiti pasangan mereka merasa bahagia?
Sebenarnya nggak juga. Tapi mereka merasa menang. Mereka nggak peduli dengan cara apa mereka menang. Padahal sebenarnya mereka nggak benar-benar menang. Tapi karena kita-nya yang mengalah.

Toxic Patner seringkali disebabkan oleh ilusi cinta yang berlebihan, duh bahasanya ha ha ha. Tapi begitulah cinta, deritanya tiada akhir (Buat Eloo). Mereka (Toxic Patner) terjebak dalam ketakutan akan kehilangan korban pasangan.Namun mereka ingin menunjukkan eksistensi dirinya untuk dihargai, disayangi, dibutuhkan dan disayang. Bingung kan? begitulah perempuan. Nampak kuat, namun rapuh.

Dalam Islam dianjurkan untuk menjadi orang yang sabar. Tapi, sekuat-kuatnya dan sesabar-sabarnya manusia (selain nabi dan rosul) Insyaallah ada batasnya (ini opini pribadi, mau debat? silahkan kirim WA). Perilaku toxic yang selalu menyalahkan, mencurigai, selalu ingin menang, berusaha menguasai akan memunculkan emosi negatif pada semua pihak. Jadi kalau berbicara tentang pelaku dan korban, mereka berdua sebenarnya adalah pelaku dan korban. Namun yang paling menyedihkan adalah ketika mereka sudah memiliki anak. Maka sang anak akan menjadi satu-satunya yang murni korban.

Lalu Apa Yang Harus Aku Lakuin?

OK, sekarang kita bahas apa yang harus kita lakuin kalau menghadapi Toxic Patner.

1. Cari Penyebab Toxic Patner.



Sebenarnya Toxic Patner sudah terlihat di awal hubungan kok. Kalau kamu tidak menyadarinya, mungkin kamu terlena oleh daya tariknya, hingga lupa segalanya.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari pemicu Toxic Patner. Salah satu pemicu terbesar yang menjadikan seseorang menjadi Toxic adalah INNER CHILD!

Disadari atau tidak. Pengalaman buruk yang kita alami pada masa pertumbuhan (masa kanak-kanak) akan bertumbuh menjadi inner child. Ibarat luka, yang namanya bekas pasti ada. Oleh karena itu yang harus kita lakukan adalah menyembuhkan inner child.

2. Sadarkan Pasangan Yang terindikasi Toxic Patner

 

Yang terpenting adalah sadarkan pasangan bahwa hubungan ini bukan hubungan yang baik-baik saja. Jangan sudah tahu seperti itu, lalu mensugesti diri "Ini adalah cobaan, aku harus kuat, harus tabah, harus sabar, wonge koyo ngono meh piye maneh, suk mbek aku mlebu surgo tak tinggal dewe week" tanpa memberitahu pasangan. Itu nanyanya egois, nggak beda sama dia.
Sadarkan pasangan bahwa ada masalah diantara kita, atau tepatnya ada masalah sama kamu. Tunjukkan bahwa "aku tuh nggak suka dibeginiin". Aku tahu kamu seperti itu. Aku selalu menjadi rumahmu. Tapi, kadang rumah ini terlalu kecil untuk paket emosimu yang unlimited tanpa kuota.

3. Sabar,

Ngomong-ngomong tentang sabar. Dulu sekali istriku sering bilang. Kamu itu nggak beneran penyabar. Kalau memang beneran sabar, seharusnya kamu tetap sabar. Karena sabar nggak ada batasnya.
Kalian juga sering-kan mendengar kata-kata ini. "Sabar tidak ada batasnya".

Maaf ni ya, aku nggak setuju dengan kata "Sabar tidak ada batasnya". Sabar itu ada batasnya. Ada nggak ayat yang menerangkan dengan jelas bahwa sabar nggak ada batasnya?  Sama halnya dengan ayat yang menerangkan sabar ada batasnya. Sepertinya nggak ada juga. Tapi urusan bersabar dengan si Toxic Patner ini, aku sudah 12 tahunan berpengalaman dan sering bobol juga sabarnya ha ha ha.

Tapi, manusia dianjurkan untuk bersabar, karena pahala yang menyertai orang yang bersabar tidak ada batasnya. Karena Allah bersama-sama orang yang bersabar. Karena dengan sabar setan bakal ndongkol sebentar. Karena dengan sabar kita jadi bisa menyusun strategi dan menenangkan hati. Dan yang terpenting dengan bersabar. Kita tidak tertular efek negatif terlalu besar.

4. Hentikan Percakapan Ketika Mulai Tidak Kondusif

Salah satu dari efek sabar adalah, kita tidak terpancing esmoni, eh esmosi, walaah salah lagi. Maksudku adalah emosi yang terdampak oleh aura negatif yang ditebarkan oleh setan. Ketahuilah, salah satu misi yang membanggakan bagi setan adalah memisahkan/menceraikan hubungan pernikahan. Kalau dia sudah terlihat nggak mau kalah, sudahi saja percakapannya.
Diam, trus manyun. Biar dia tahu kalau kita mengalah, bukan kalah. Tapi karena ndongkol.

Trik dari pertengkaran paling new kemarin sih, kita bertengkarnya lewat WA, soalnya malu mau bertengkar dilihat anak-anak. Cuma yang kemarin aku nggak mau ngalah sih, capek-lah disalahin terus. Dia juga nggak mau kalah, cuma aku bilang sih. Astajim, eh Astagfirullah, jadi seperti ini adab istri ke suami wkwkwkw. Kemarin kan habis ikut parenting nabawi. Sudah dijelaskan adab istri ke suami. 

5. Susun Komunikasi efektif

 

Komunikasi efektif sangat penting dalam kehidupan berumah tangga. Apalagi kalau ada indikasi Toxic Relation. Komunikasi harus lebih di intenskan. Ingat! wanita punya 20 ribu kata yang harus dikeluarkan setiap harinya. Jangan sampai 20 ribu kata itu menjadi kata makian.

Seperti yang aku singgung di "Penyebab". Toxic Patner diawali dari inner child yang belum selesai. Maka yang paling utama adalah saling berkomitmen untuk menyembuhkan inner child. Healing your inner child. Bangung komunikasi efektif dengan sidia, sehingga kita bisa saling memahami antara satu dan lainnya, eaaa.
Lalu mari kita bersinergi membentuk visi keluarga. Bersama kita berproses membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera, seusia dengan cara-cara Islami dan dasar-dasar negara kita. Allahu Akbar!

6. Saling Mendukung Untuk Berubah

 

Proses penyembuhan inner child at.au healing inner child bisa memakan waktu seumur hidup. Jangan pernah menyerah untuk berubah. Berilah apresiasi dan dukungan pada hal-hal positif yang dia lakukan. Beri dukungan dan beri keleluasaan untuk bertemu dengan orang-orang yang bisa membantunya menyelesaikan inner childnya. Temani dia jika dia membutuhkanmu, buatlah dia bahagia. Sebenarnya Toxic itu muncul ketika dia tersiksa dengan keadaannya. Cari tahu keadaan-keadaan yang membuatnya tidak nyaman dan menjelma menjadi toxic.

7. Kuatkan Tekad, Tegaskan Komitmen

Dari awal kami sadar, kami bukan dari keluarga biasa saja. Aku dan dia, sama-sama berasal dari keluarga yang spesial. Sehingga kami sudah berkomitmen sejak awal. Bahwa:

"Kami ingin menjadi keluarga yang lebih baik dari keluarga kami sebelumnya. Kami ingin menjadi orang tua yang lebih baik dari orang tua kami. Kami ingin anak-anak kami tumbuh lebih baik dari kami. Kami ingin dsb.. dsb

Bagi si Toxic Patner. Kuatkan tekad untuk menyembuhkan inner child yang belum tuntas. Kuatkan tekad untuk sembuh dari toxic.

Bagi Pasangan si Toxic. Bantu dia untuk sembuh.

Tegaskan Komitmen bersama. Kalau perlu pasang di semua tempat atau dibikin spanduk sekalian, taruh di dompet. Kalau Toxicnya kumat, keluarin spanduk dari dompet trus tunjukin ke dia.


Orang tua yang tidak bahagia akan melahirkan anak yang tidak bahagia. Anak yang tidak bahagia, ketika mereka menikah nanti akan berpotensi menjadi orang tua yang tidak bahagia.

 “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas,” (QS. Az-Zumar : 10)


“Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu tetapi ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi ia buruk bagimu, dan Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui,“ (QS. Al-Baqarah: 216).

4 comments:

  1. Thank you for always being the best support system for me.. ❤️❤️❤️❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  2. Gandem tulisane...inspiratif banget ....jazakillah khair....
    suhu martin.....

    ReplyDelete